Jumat, Januari 27, 2012

Keajaiban Kasih Sayang


Bismillahir Rahmanir Rahìm

Maka disebabkan kasih sayang dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu
.::QS Ali 'Imran 159::.

Salah satu ajaran akhlak yang paling utama bagi seorang Muslim adalah sikap kasih sayangnya.
Suatu hal yang tidak berlebihan, mengingat Islam merupakan
"Rahmatan lil alamin"
Agama yang bercucuran kasih sayang.
Ajaran yang membebaskan manusia dari jeratan nafsu angkara menuju perdamaian yang menyejukkan.

Sederet manusia keras telah menjadi palang pintu utama gerakan jihad setelah mendapat sentuhan lembut Islam.

Umar bin Khaththab, singa padang pasir yang gemar mengayunkan pedang secara liar.
Cahaya hidayah membuat keberingasaannya bernilai ibadah di medan juang.
Khalid bin Walid,
sebelum bersyahadat ia adalah lakon penting dibalik ambruknya kaum Muslimin di perang Uhud.
Berikutnya, bukan hunusan senjata yang membuatnya bertekuk lutut, kelembutan dakwah menjadikannya Mukmin sejati.
Dialah Pedang Allah
(Saifullah) yang menyiarkan Islam hingga membuka mata dunia.

Alhasil, Rasulullah SAW tak membutuhkan kilatan pedang untuk menundukkan orang yang ganas.
Cukup menyiraminya dengan kasih sayang.
Dan pesona kelembutan sanggup melelehkan hati yang membatu sekalipun.

Terkait dengan
QS Ali 'Imran 159;
A. Yusuf Ali melukiskan bahwa karena sifat Rasulullah Muhammad SAW yang begitu lemah lembut, menyebabkan semua orang sayang kepadanya dan inilah salah satu rahmat Allah.
Tak pernah ada yang lebih berharga baginya daripada sifat yang begitu lemah lembut, penuh kasih sayang dan kesabaran yang begitu besar menghadapi kemarahan manusia.
Ini adalah sifat yang sungguh agung, yang kemudian, dan yang selalu demikian, menyebabkan banyak sekali orang yang tertarik kepada beliau.

Islam sangat perhatian terhadap kecerdasan sosial umatnya.
Dimanapun berada, kehadiran seorang Muslim adalah penyejuk yang mendamaikan.
Kedatangannya dinanti dengan penuh harapan, kepergiannya ditunggu untuk kembali.
Bukankah agama mulia ini berkembang pesat berkat perilaku santun pemeluknya yang lekas menarik simpati berupa untaian indah akhlak dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan.

Terbukti bahkan dalam peperangan, etika sosial sangat dijaga.
Hakat kemanusiaan tetap terpelihara dalam bingkai kasih sayang.
Tidak boleh merusak fasilitas umum, jangan mengganggu wanita, orang tua dan anak-anak, dilarang menebang tanaman, tidak boleh membunuh lawan yang sudah menyerah dan berbagai perilaku indah lainnya, sehingga musuhpun terpikat seraya berseru, "Betapa indah ajaran ini!"

Andai dipakai cara-cara kekerasan, maka betapa banyak lahir barisan 'sakit hati' yang rajin memupuk dendam.
Mereka yang setia memelihara bara di dada dan sewaktu-waktu siap di ledakkan.
Pada kondisi dilematis begini, jelas keharmonisan menjadi barang mahal yang sulit digapai.
Permusuhan akan menjadi sumbu utama malapetaka.

Sikap patriot sejati tidak selamanya tercermin dari kegarangan menebas batang leher musuh.
Ada kalanya kelembutan mengukir bukti atas sikap ksatria.
Utsman bin Affan,
sebagai Khalifah bisa saja menyuruh pasukan militer menumpas habis pemberontak yang mengepung rumahnya.
Khalifah santun itu melarang memakai jurus kekerasan pada sesama pemeluk Islam.
Ia justru banyak menasihati penyerang, berusaha keras meluruskan kekeliruan prasangka mereka.
Sampai akhirnya sang pemimpin berbudi itu wafat terbunuh.
Utsman r.a syahid sekaligus meninggalkan kenangan indah tentang sikap lembut seorang Mukmin.
Dia menghindari cara-cara kekerasan dan konsisten membuka ruang dialog.
Kematiannya tidak sia-sia demi menjaga keutuhan ummat.
Utsman menjadi martir demi keselamatan bersama yang lebih besar.

Secara lebih universal, Islam mengajarkan penghargaan yang tinggi terhadap eksistensi kemanusiaan.
Kematian sekalipun tidak menghalangi seseorang untuk dihormati.
Atas nama kemanusiaan, siapapum berhak dihargai selayaknya manusia.
Apapun identitasnya, warna kulit, ras dan simbol duniawi yang melekat dipundaknya.

Suatu etika mulia dicontohkan Rasulullah SAW berabad-abad lampau.
Saat itu beliau sedang beramah tamah dengan para sahabat setia.
Tiba-tiba Rasulullah Muhammad SAW berdiri seiring lewatnya iring-iringan jenazah.
Sikap penghormatan itu menyentakkan para sahabat.
Raut kegusaran merona di wajah mereka, sehingga munculah gugatan,
"Wahai Rasulullah, bukankah itu iring-iringan jenazah orang Yahudi?"
Rasul menjawab dengan pertanyaan menawan,
"Bukankah ia juga manusia?"
Perilaku santun selalu berbalik kebaikan bagi pelakunya.
Lantas, kebaikan apa yang bisa di peroleh dari mayat yang hendak dibenamkan dalam tanah?
Ya, orang mati jelas tak mungkin memberi reaksi balik.
Imbas positif tersebut datang dari orang-orang sekitar yang menyaksikan;
Sanak keluarga, handai taulan dan temannya akan menyimpan kenangan manis.
Betapa indah Islam dalam membina kasih sayang dan menghormati kemanusiaan.

Saat penaklukan kota Mekah
(fathul Makah)
orang-orang kafir di landa ketakutan mendalam.
Mereka yakin kaum Muslimin akan mementaskan aksi balas dendam masal.
Saking cemasnya,
Shafwan bin Umayyah, musuh Islam yang ...
...sangat sadis bersiap-siap bunuh diri.
Saudara sepupunya bernama Umair mengabarkan kepada Nabi.
Beliau bersabda,
"Susul dia, aku telah memaafkan."
Sebagai tanda bukti, Rasul menyerahkan sorbannya untuk diperlihatkan oleh Umair pada saudaranya.
Hingga Shafwan batal bunuh diri, kemudian menghadap beliau seraya berkata,
"Apabila engkau memberi pengampunan untukku, maka berikanlah waktu selama dua bulan agar aku masuk Islam."
"Berpikirlah engkau selama empat bulan, sebelum mengambil keputusan memeluk Islam", jawab Rasulullah SAW bijak.
Akhirnya sebelum satu bulan Shafwan datang menyatakan keimanan.
Selanjutnya ia berdiri gagah menjadi pembela agama Tauhid.
Kasih sayang itu telah menjinakkan jiwa paling liar sekalipun.
Allah Maha Besar!
Firman Allah,

Kamu senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat).
Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka.
Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.
.::QS Al Maidah 13::.

Hanya saja sejarah kemunafikan yang panjang telah menyaksikan babak belurnya sense of humanity.
Rasa kasih sayang yang sudah tercabut dari nurani, berganti egoisme sempit yang menekan kanan kiri.
Umpama masyarakat serigala yang berpegang pada prinsip homo homini lupus, dimana antar sesama manusia saling memangsa.
Sikap buruk sosial tergambar ketika kita mengibarkan bendera kegemilangan dengan terlebih dahulu menumbangkan bendera orang lain.
Kita bersorak dipuncak kemenangan setelah menjungkalkan teman ke jurang kehancuran.
Kita bersinar terang dengan terlebih dahulu memadamkan lampu sahabat sendiri.
Kita tersenyum riang gembira dengan puja puji, saat orang kanan kiri berurai air mata darah.
Apalagi dewasa ini aksi neokanibalisme semakin unjuk gigi dalam wujud baru yang tak kalah mengerikan.
Perangai mengkorup dana setara dengan mengunyah jasad saudara sebangsa yang mati kelaparan.
Aksi membeberkan kejelekan rekan sendiri setara dengan memakan daging bangkainya.
Wabah itu membuat pelaku tega memangsa saudaranya, kendati seiman dan seaqidah.
Lantas kemana melayangnya kasih sayang itu?
Barangkali kita melihat kemungkaran dilakukan oleh saudara seagama, bukan berarti cara main kayu didahulukan ketimbang nasihat taqwa.
Setidaknya kekhilafannya tidak menyamai kekejian Fir'aun yang mengaku diri sebagai Tuhan.
Bahkan terhadap Fir'aun yang terkutuk itu, Allah Azza wa Jala masih menyuruh Musa dan Harun a.s mendaqwahi dengan
"qaulan layyinan"
(ucapan kelembutan)

Indonesia sebagai bangsa timur mewarisi kelembutan budaya yang menakjubkan.
Hanya saja ujian sejarah berupa krisis multi dimensi telah mencabik-cabik kepribadian yang berharga itu.
Tiba-tiba kita menjadi bangsa pemarah yang menghadapi setiap masalah dengan luapan amarah.
Gara-gara uang recehan, nyawa bisa melayang.
Perbedaan pendapat tidak bisa diterima dengan lapang dada, yang keluar malahan caci maki dan perilaku kekerasan.
Rasa saling curiga membuat kinerja otak jadi macet dan emosi lekas meledak.
Ruangan musyawarah menjadi ajang pengadilan jalanan.
Usai shalat jamaah, kita bersalam ukhuwah, namun setelahnya saling mencaci, hanya karena perbedaan majhab? Atau ada gerakan dalam shalat yang berbeda? Dan bahkan bersalam ukhuah itu sendiri ada yang menggolongkan sebagai hal yang menyesatkan?
H... h... h...
Bukankah Rabb kita masih sama dan Rasul kitapun sama?

Dari Sabang sampai Merauke berjajar penderitaan.
Sambung menyambung menjadi satu, itulah elegi yang mencengkeram bumi pertiwi.
Padahal mayoritas penduduk negeri ini mengusung identitas Muslim, Agama yang kaya akan kasih sayang.
Lantas kemanakah lenyapnya pribadi 'Marhamah' yang dipuja sejarah?

Ibnu Khaldun menyatakan dalam "Al Insan Madayyun bi al Thab'iy"; secara tabiat manusia adalah makhluk berperadaban yang berjiwa sosial.
Dengan sendirinya, manusia jelas saling membutuhkan satu sama lain.
Dan sikap kasih sayang merupakan salah satu bentuk dari kecerdasan sosial.
Terkait dengan itu, konsep terindah bahwa kitalah yang membutuhkan kehadiran saudara, bukan sebaliknya.
Wujud kecerdasan sosial tersebut tercermin dari komitmen;
"Seribu sahabat masih belum cukup banyak, satu musuh sudah terlalu banyak"

Allah telah menurunkan kehalusan rasa di hati manusia.
Sebuas apapun manusia, ia tetap memiliki getar-getar nurani.
Hanya kepekaan tersebut menjadi kropos di sebabkan kurangnya kepedulian.
Egoisme sempit serta ketamakan nafsu yang mencederai putihnya hati.
Maka merugilah mereka yang kehilangan anugerah kasih sayang!

Allah berfirman:
Teman-teman akrab pada hari itu (Qiamat) sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa
.::QS Az Zukhruf 67::.

Yang dipertegas dengan sabda Rasulullah SAW:
Sungguh Allah berfirman di hari Qiamat,
"Dimana orang-orang yang berkasih sayang karena Aku?
Demi Keperkasaan Ku dan Ketinggian Ku, hari ini Aku berikan awan untuk mereka berteduh, pada waktu tak ada lagi tempat berteduh bagi manusia selain daripada Aku"
.::HR Ath Thabrani::.

Begitupun dalam Haditsnya, secara tegas Rasulullah menyatakan,
"Ada dua jenis manusia yang Allah tidak melihatnya dihari Qiamat.
Pertama ialah orang yang memutuskan tali kasih sayang dan kedua mereka yang jahat kepada tetangganya
.::HR Ad Dailamy::.

Kasih sayang mampu menyulap banyak keajaiban, merapatkan hati yang renggang, menyatukan jiwa yang terbelah serta melembutkan kekasaran.
Masyarakat bernurani selalu memilih jalan kasih sayang, apa lagi terhadap saudara yang seiman.
Tidak cukup menjalin kehangatan dengan Allah semata, sebab menjalin kasih sayang dengan makhlukNya juga bernilai ibadah.
Wallahu 'alam bil shawab

Ya Rabbana,
Jadikanlah kami termasuk golongan seperti mereka yang telah membangun masa kejayaan,
Yang kini telah kami pudarkan
Rangkum kami dengan ukhuwah
Sirami hati kami dengan kasih sayang
Hanya dari Mu
Amiin
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar